Untuk Hasilkan Start-Up, Perguruan Tinggi Akan Diwajibkan Miliki Inkubator Bisnis Teknologi

By | December 10, 2018

Untuk Hasilkan Start-Up, Perguruan Tinggi Akan Diwajibkan Miliki Inkubator Bisnis Teknologi
03 December 2018
JAKARTA – Pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk dapat melampaui hasil penelitian menjadi produk inovasi yang dapat dipasarkan kepada masyarakat. Salah satu caranya adalah memastikan perguruan tinggi memiliki inkubator bisnis teknologi (IBT) yang produktif sehingga dapat melahirkan wirausaha atau perusahaan pemula (start-up) berbasis teknologi.
“Start-up menjadi sangat penting, bagaimana mempertemukan antara academicians, business, maupun government (triple helix) untuk berkolaborasi. Ini yang harus kita perhatikan,” demikian dikatakan Menristekdikti Mohamad Nasir saat membuka Forum Nasional Inkubator Bisnis Teknologi.
Forum yang diselenggarakan di Grand Ballroom Hotel Ayana Jakarta ini berlangsung dari hari Senin, 3 Desember hingga Rabu, 5 Desember 2018, merupakan hasil kerja sama antara Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti dengan Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) .
Selanjutnya Nasir berharap di masa mendatang perguruan tinggi dengan akreditasi A dan B harus memiliki inkubasi bagi dosen dan mahasiswa yang memiliki hasil penelitian, sehingga penelitian tersebut dapat menjadi inovasi dan dipasarkan langsung ke masyarakat.
“Semua perguruan tinggi ke depan harus punya inkubasi, harus punya teaching factory dalam rangka mengembangkan inovasi di Indonesia, khususnya inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi,” tegasnya dihadapan sekitar 200 pengelola IBT yang datang dari segala penjuru Indonesia itu.
Selain mengingatkan pentingnya peran IBT dalam penelitian, dalam forum tersebut Menristekdikti juga memberikan penghargaan kepada 6 IBT karena telah dapat menghasilkan start-up terbaik pada tahun 2018 ini. Mereka itu adalah Incubie Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Direktorat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Universitas Indonesia (DIIB UI).
Penghargaan lain diberikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (LPPM UNY), Skystar Venture Universitas Multimedia Nusantara (UMN),  Inkubator Wirausaha Inovasi Jawa Tengah (Inwinov Jateng), dan Maleo Techno Centre.
Sementara itu Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo saat menyampaikan laporannya mengatakan bahwa salah satu kelemahan perguruan tinggi terutama dalam kemampuan melakukan inisiasi dari penelitian. Oleh karena itu, menurutnya, peran inkubator sangat penting.
Untuk itu, “sampai dengan tahun 2018, Kemenristekdikti telah memperkuat kelembagaan 44 IBT, serta menumbuhkan 5 IBT baru, namun yang masih kekurangan IBT adalah di luar Pulau Jawa,” lanjut Dirjen.
Pada kesempatan ini Ketua AIBI Asril Syamas menyampaikan rasa apresiasi dan penghargaan atas bimbingan Kemenristekdikti. Asril memuji peran Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti dalam upaya menumbuhkan wirausaha baru ini.
Dalam acara ini hadir Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Naim, Direktur Kawasan Sains Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya Lukito Hasta Pratopo, dan Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristekdikti Retno Sumekar.

Sumber
Penulis : Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *