Konverter Kit Diesel Dual Fuel (DDF) Hemat 35 Persen Bahan Bakar Kapal 30 GT dan Truk

By | October 1, 2019

Siaran Pers KemenristekdiktiNomor : 200/SP/HM/BKKP/IX/2019

Semarang – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengujiterapkan penggunaan Konventer Kit Diesel Dual Fuel (DDF) yang memungkinkan solar diesel digabung dengan bahan bakar gas (BBG). Campuran solar dengan gas ini memungkinkan kapal 30 gross ton (GT), truk barang, dan truk engkel menghemat sepertiga hingga setengah biaya bahan bakar dibanding menggunakan solar murni.

“Ada satu alat yang disebut conventer kit, penelitiannya sudah dihasilkan dan inovasinya telah dibiayai Kemenristekdikti. Bagaimana hasil ujinya? Kalau kita pakai solar, ini penggunaannya 100 persen, tapi kalau dengan ini ada penghematan sekitar 35 persen. Penghematan ini karena kita pakai LPG yang harga per kilogram sepuluh ribu Rupiah,” ungkap Menristekdikti saat Uji Terap Konverter Kit Diesel Dual Fuel (DDF) untuk Kapal di atas 30 Gross Ton (GT) dan Transportasi Darat Lainnya di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang pada Minggu (29/9).

Konventer Kit DDF ini diciptakan oleh Abdul Hakim Pane bekerja sama dengan Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Konventer ini sudah dikembangkan dan dibiayai oleh Kemenristekdikti sejak 2016. Menteri Nasir berharap konventer ini dapat dikembangkan tidak hanya mampu mencampur solar dengan Liquified Petroleum Gas (LPG) yang masih diimpor Indonesia, namun juga dapat mencampur solar dengan Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquified Natural Gas (LNG) yang dapat diproduksi dari Blok Masela dan blok gas lain di Indonesia.

“Saya men- challenge ke penelitinya lagi, bisa tidak kalau kita tidak hanya pakai LPG tapi pakai CNG, compressed natural gas yang ini barang lokal, bukan barang import yang harga satu kilonya lebih murah lagi, hanya tiga ribu lima ratus. Kalau itu bisa dilakukan, penghematan yang dilakukan bisa di angka 60 persen,” ungkap Menristekdikti.

Dengan adanya teknologi ini, diharapkan mayoritas kapal dan truk dapat menggunakan campuran solar dan gas, baik LPG, CNG, maupun LNG. Menristekdikti menyampaikan kementeriannya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) untuk menyediakan rantai pasokan (suppy chain) dari LPG, CNG, atau LNG bagi kapal dan truk.

“Bagusnya teknologi yang ada ini kalau tidak ada gas yang digunakan, tidak ada artinya. Ekosistem harus kita bangun betul. Kalau ekosistemnya tidak disiapkan, saya jadi ragu berhasil atau tidak. Ekosistem harus disiapkan untuk BBGnya, bahan bakar gas ini,” papar Menristekdikti.

Dalam kesempatan yang sama, penemu dari konventer kit DDF ini, Abdul Hakim Pane mengungkapkan hasil penelitiannya terkait penggunaan solar murni dibanding penggunaan solar dengan CNG bagi truk.

“Kita hitung pakai jerigen, pakai tangki ukur, solar asli satu liter tujuh kilometer truk engkel ini. Pakai alat saya, satu banding tujuh menjadi satu liter untuk tiga belas kilometer. Solarnya harus dikecilkan, ditambah dengan CNG, bisa juga dengan LNG tapi (LNG) belum ada di Indonesia, masih sedikit,” ungkap Abdul Hakim Pane setelah mendampingi Menristekdikti menaiki kapal 30 GT milik Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sudah menggunakan konventer kit ciptaannya.

Dalam kesempatan ini Menristekdikti melihat langsung mesin truk engkel yang sudah dipasangkan konventer kit dan juga menaiki langsung kapal 30 GT yang sudah dipasangi konventer di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Turut hadir mendampingi Menristekdikti Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Sekretaris Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Prakoso, Direktur Pengembangan Teknologi Industri Hotmatua Daulay, Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sri Puryono, Plt. Kepala Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Usman Effendi, Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gunaryo, dan Inovator Konverter Kit Diesel Dual Fuel Abdul Hakim Pane.

Dalam kesempatan ini Menristekdikti juga menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara PT. Cahya Gemilang Semesta selaku perusahaan yang memproduksi Konventer Kit DDF dengan PT. Para Amartha LNG yang menggunakan konverter kit ini.

Ahmad Tombak Al AyyubiBiro Kerja Sama dan Komunikasi PublikdanDirektorat Jenderal Penguatan Riset dan PengembanganKemenristekdikti

Instagram @RistekdiktiTwitter: @KemristekdiktiFacebook: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan TinggiYouTube: Ristekdikti TVWebsite : https: //ristekdikti.go.idGoogle Play: G-Magz

Sumber
Penulis : Jamal Suteja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *