Kemrisrekdikti Siapkan Beasiswa untuk Pendidikan Kedokteran

By | March 27, 2017

Kemrisrekdikti Siapkan Beasiswa untuk Pendidikan Kedokteran

Muhammad Nasir. (Antara)
Sabtu, 25 Maret 2017 | 10:37
Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, biaya pendidikan kedokteran lebih mahal dibandingkan bidang pendidikan lainnya. Hal ini yang menyebabkan anak dari keluarga kurang mampu tidak dapat mewujudkan mimpinya menjadi dokter.
Nasir menyebutkan, calon mahasiswa berprestasi dari kalangan tidak mampu untuk tidak perlu khawatir melihat besarnya biaya pendidikan kedokteran tersebut. Negara hadir melalui berbagai skema pembiayaan dan beasiswa untuk memberikan akses bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih impian menjadi dokter.
“Kita siapkan beasiswa melalui berbagai macam jalur. Salah satunya melalui UKT (Uang Kuliah Tunggal-red).Mahasiswa kalangan tidak mampu tidak perlu membayar uang semester (Rp.0), sedangkan mahasiswa mampu lainnya membayar UKT sesuai kemampuan orang tua, subsidi silang. Sehingga muncul sistem pembiayaan berkeadilan” kata mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, berdasarkan siaran pers yang diterima Suara Pembaruan, Sabtu (24/3).
Nasir menyebutkan, pada 2012, Ditjen Pendidikan Tinggi telah menyusun analisis unit biaya pendidikan kedokteran per semester dengan pendekatan activity-based costing yang selanjutnya juga menjadi dasar perhitungan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk pendidikan kedokteran di PTN sesuai Permendikbud No. 73/2014.
Dijelaskan dia, berdasarkan analisis tersebut diperoleh BKT Pendidikan Dokter: Rp 12.694.000. Dalam penerapannya di perguruan tinggi negeri, UKT Pendidikan Dokter mulai dari Rp 0 hingga maksimal Rp 25.000.000 untuk kelas tertinggi. Dengan berlakunya UKT, mahasiswa di perguruan tinggi negeri hanya membayar uang semester. Tanpa dibebani uang pangkal dan biaya lainnya.
Nasir menuturkan, penerapan UKT berkeadilan ini telah dirasakan manfaatnya oleh para mahasiswa kedokteran di berbagai perguruan tinggi negeri.
Selain itu, bagi mahasiswa dari kalangan keluarga tidak mampu juga dijamin aksesnya mengenyam pendidikan dokter melalui pemberian beasiswa jalur lain yang dikeluarkan melalui program Bidikmisi, LPDP, dan juga program Beasiswa Afirmasi. Hal ini sesuai dengan amanat Undang Undang No.20 tahun 2013 mengenai adanya beasiswa dan bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa dan dosen
Selanjutnya Nasir juga mengatakan, selain skema beasiswa yang ada. Beberapa universitas juga telah membuat program terobosan untuk membuka akses pendidikan kedokteran.
Universitas Padjajaran contohnya, sejak tahun lalu telah menggratiskan biaya pendidikan bagi para mahasiswa kedokteran. “Para mahasiswa memperoleh beasiswa dari kota/kabupaten di Jawa Barat, termasuk dari instansi swasta dengan kewajiban setelah mereka lulus sebagai dokter harus bekerja di Jawa Barat di wilayah/instansi yang ditentukan,” ujarnya.
Menurut Nasir, biaya kuliah kedokteran tinggi karena pendidikan kedokteran membutuhkan sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum, rumah sakit pendidikan, wahana pendidikan kedokteran, serta wahana penelitian yang sesuai dengan Standar Pendidikan Profesi Dokter (SPPD) dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).
Untuk itu, kata Nasir, dibutuhkan sumber daya yang besar termasuk biaya yang besar untuk mendirikan dan mengimplementasikan pendidikan kedokteran pada Fakultas Kedokteran.
Fatima/JAS
Suara Pembaruan

Sumber
Penulis : Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *