Feryan Fernanda, Mutiara Bangsa dari Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal

By | April 19, 2017

Feryan Fernanda, Mutiara Bangsa dari Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal

Feryan Fernanda, mahasiswa IPB peraih Honorable Mention.
Monday, 17 April 2017 | 11:21 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Baru-baru ini Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penjaringan  Mahasiswa Berprestasi Utama di tingkat IPB. Salah satu pesertanya adalah Feryan Fernanda, mahasiswa berprestasi dari Fakultas Pertanian. Ia tidak terpilih, tetapi mendapat penghargaan Honorable Mention.
Yang menarik adalah karena ia masuk IPB bukan melalui jalur penerimaan mahasiswa  baru pada umumnya, tetapi melalui program Afirmasi Pendidikan (ADIK), yang secara khusus menberikan peluang bagi siswa-siswa di daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal).
Terkait anugerah yang diterimanya itu, Feryan Fernanda menulis dalam akun facebook-nya sebuah catatan yang mampu menggulirkan air mata siapa pun yang membacanya,  sebagai berikut:
Pemilihan Mahasiswa Berprestasi IPB 2017 telah usai dan saya kembali ingin berbagi cerita.
Sejujurnya saya tidak pernah bermimpi untuk berada di mana saya hari ini. Saya lahir dan besar desa zona merah dari konflik separatis Aceh tahun 1979-2005. Bukanlah hal yang mudah. Penemuan mayat dan korban sipil adalah pemandangan sehari-hari saat kecil. Anggota keluarga yang hilang diculik adalah berita sehari-hari kami. Dan suara kontak senjata adalah lagu pengantar tidur di setiap malam kami. Sehingga kami tidak punya waktu untuk membangun, apalagi untuk kuliah. Yang kami inginkan selama bertahun-tahun adalah berhentinya warga sipil yang harus membayar dengan nyawa untuk dosa yang tidak mereka lakukan. Ekonomi terpuruk, pendidikan nyaris tidak ada.
Desa asal saya saat itu mungkin tidak memiliki lebih dari 10 jenis pekerjaan warganya. Semua masih di sekitar pertanian. Sawah, ladang, kebun. Sehingga,  sejak kecil saya sangat akrab dengan dunia pertanian dan selalu menjadi arah saya untuk mengabdi. Hingga satu hari desa kami kedatangan seorang penyuluh pertanian asal Jawa. Beliau mengenalkan kami pada teknologi mutakhir dari budidaya pertanian yang dapat digunakan petani. Sejak itu kami mengenal mulsa plastik, benih hibrida, dan lain-lain. Dan beliau adalah sarjana dari IPB.
Sejak itu, di saat teman-teman saya sangat terobsesi menjadi prajurit medan perang dan berjuang untuk daerahnya, saya justru ingin dengan bangga menyampaikan pada mereka bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan hingga IPB. Sejak dini Ibu saya melawan arus masyarakat desa, bahwa membangun Aceh bukan dengan senjata. Tapi dengan pengetahuan dan sumber daya manusia (SDM)  yang berkualitas untuk membawa masyarakat ini sejajar dan sedamai masyarakat di Jawa. Saya tidak akan pernah lupa pesan beliau,  “Dengan pendidikanlah kamu bisa mengubah keadaan kita saat ini. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap sekolah.”
Dan saya terus memegang pesan Ibu saya. Dengan segala kekurangan keluarga, saya tetap melanjutkan sekolah. Hingga pada akhir sekolah menengah, keadaan kembali menantang saya. “Mama tidak punya apa-apa untuk kuliahkan kamu, nak. Kalau kamu bisa, ke ujung dunia manapun Mama akan selalu dukung kamu” dan saya berjuang untuk bisa mewujudkan mimpi saya menjadi seorang sarjana pertanian. Allah mengirimkan saya Sekretaris IPB Dr Ir Ibnul Qoyyim, dan memberikan saya ‘courage’ melalui tangan beliau. Dan lagi, Allah tidak akan membiarkan hasil mengkhianati usaha. Atas inspirasi dan ‘courage’ itu, Allah akhirnya menghantarkan saya ke bumi kampus IPB untuk pertama kalinya pada 26 Juni 2014.
Saya sangat bersyukur  kepada Allah SWT  bahwa pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memahami kondisi putera-puteri daerah seperti saya dan mengadakan jalur khusus bagi kami putera-puteri daerah yang belum cukup terbangun, yaitu Afirmasi 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal) sebagai jalan saya untuk berikhtiar.
Malam ini (8/4/17), saya membuktikan diri di depan Rektor dan pimpinan IPB lainnya, para pimpinan organisasi kemahasiswaan, serta calon mahasiswa berprestasi IPB yang ber-IP 4,00, bahwa Ditjen Dikti tidak pernah sia-sia telah melahirkan program tersebut.
Meski tidak keluar sebagai juara utama, alhamdulillah saya mendapatkan Honorable Mention yang disampaikan langsung oleh perwakilan Dewan Juri, yaitu Prof  M Firdaus. Malam ini adalah pencapaian terbesar yang pernah saya raih di hidup saya dengan bersanding bersama mahasiswa IPB yang luar biasa. Saya sudah membuktikan bahwa Afirmasi Dikti adalah program yang tepat untuk mencari mutiara-mutiara bangsa. Direktur PPKU, Dr Bonny, pernah berkata bahwa kami ini sebenarnya adalah mutiara-mutiara bangsa yang begitu berkilau. Hanya saja terbenam dalam pasir perjalanan bangsa. Yang kami butuhkan adalah asahan. Dan saya sudah membuktikan bahwa tangan IPB bisa mengasah mutiara berpasir itu dan layak ditempatkan pada etalase emas milik IPB.
Saya percaya masih ada ratusan, ribuan, jutaan, mutiara bangsa lainnya yang terpendam di pelosok negeri. Cepat atau lambat mereka akan muncul dan menyinari Nusantara dengan kebanggan mereka dan semangat mereka untuk membangun negeri. Tuhan YME adalah saksinya. Dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk bahu-membahu membantu mereka mewujudkan mimpi mereka untuk membangun Indonesia dari pagar negeri.
Malam ini,  meskipun tidak keluar sebagai juara utama, saya pulang dengan terhormat membawa rasa syukur pada Allah dan rasa bangga saya pada daerah saya, mahasiswa afirmasi, dan Fakultas Pertanian.
Ucapan terima kasih saya kepada Rektor IPB, Wakil Rektor, seluruh jajaran pimpinan IPB, Dekan Fakultas Pertanian, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Ketua BEM KM IPB, ketua DPM KM IPB, Sekjen MPMKM IPB, Ketua BEM Fakultas Pertanian, Ketua Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura IPB, dan Ketua Ikatan Mahasiswa Tanah Rencong IPB berserta seluruh jajarannya. Terima kasih yang spesial untuk Dr  Ir Eny Widajati MS yang sudah mendukung saya sejak awal, Dr  Ir  Ni Made Armini Wiendi  MS selaku pembimbing saya pada seleksi ini, Dewan Juri seleksi tingkat departemen, fakultas, dan IPB, serta teman-teman seperjuangan Azalea (AGH’51) yang menjadi lingkungan di mana saya dapat berjuang.
Kepada seluruh teman  Mawapres IPB 2017, terima kasih atas semua kenangan bersama. Pada Pak Ujang, Mas Ari, Mba Gesty, Mba Dewi, dan Mas Insan yang banyak membantu di belakang layar, serta pastinya Direktorat Kemahasiswaan IPB. Terima kasih juga pada sahabat saya, Jefry dan Bambang, sudah menjadi teman hidup yang luar biasa. Terima kasih juga saya ucapkan pada Ibu saya, adik-adik saya Putri, Oca, Gibran, dan ayah saya. Terima kasih. Saya minta maaf pada kalian semua bila belum bisa menjadi apa yang kalian harapkan.
Kepada saudaraku, Ado dan Wildan, pada kalianlah saya titipkan rasa bangga ini terhadap almamater kita. Sesuai lirik hymne-nya, kampus ini adalah pengemban cita suci. Saya adalah saksi betapa tulus dan sucinya IPB mengasah mutiara-mutiara itu. Bawalah IPB menjadi juara utama. Tunjukkan di luar sana bahwa justru pertanianlah yang melahirkan generasi yang prestatif dan unggul serta menjadi garda terdepan dalam memperkokoh martabat bangsa. Jayalah IPB kita. IPB, digdaya!
Dramaga, 9 April 2017Salam Anak Bangsa, Feryan Fernanda

Red: Irwan Kelana

Sumber
Penulis : Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *