Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Bekerjasama LLDIKTI Wilayah XII Ambon Mengadakan Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019 di Ambon

By | August 21, 2019

Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019 di Ambon
Ambon – Selasa (20/8/2019) Kemenristekdikti melalui Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Belmawa  bekerja sama dengan LLDIKTI Wilayah XII Ambon mengadakan Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019 di Ambon, tepatnya di Gedung Serba Guna Kantor LLDIKTI Wilayah XII Ambon. Kegiatan yang berlangsug dari pagi hingga sore hari menghadirkan Narasumber Bapak Beginer Subhan dari IPB, Bapak Ruddy J. Suhatril dari  Universitas Gunadharma yang akan membahas tentang sistem informasi dari Pusat Karir/Tracer Study serta ibu Lisyan Tamara dari Universitas Negeri Surabaya yang akan menyampaikan sukses story dari pusat karir yang dipimpinnya. Hadir pada kegiatan tersebut adalah tim dari Kemenristekdikti yang diantaranya adalah Dra. Tiomega Gultom yang juga sebagai Kepala Subdirektorat Penyelarasan Kebutuhan Kerja Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti
Kegiatan Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019 dibuka secara resmi oleh Sekretaris LLDIKTI Wilayah XII Ambon dan dilanjutkan arahan oleh  Kasubdit Penyelarasan Kebutuhan Kerja Kemenristekdikti.  Peserta pada Kegiatan tersebut adalah dosen maupun operator dari masing – masing Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta yang berada di Wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Dalam sambutannya, Sekretaris LLDIKTI Wilayah XII Ambon Dr. Jantje E. Lekatompessy, SE, M.Si, Ak, CA mengatakan bahwa yang menjadi masalah adalah ketika LLDIKTI Wilayah XII Ambon khususnya terkait dengan perjanjian kinerja untuk Kementerian setiap bulan, kita kewalahan dalam mengakomodir sudah berapa banyak Perguruan Tinggi yang melakukan tracer study.
Disamping itu, beliau juga mengatakan bahwa kalau mutu lulusan sebuah Perguruan Tinggi jelek berarti yang kena adalah Perguruan Tingginya, sampai seberapa jauh Perguruan Tinggi telah melakukan banyak hal untuk transformasi ilmu atau keterampilan kepada mahasiswa sehingga lulusan yang dihasilkan harusnya mampu untuk mengisi dunia kerja. Sehingga kalau seandainya PTN maupun PTS tidak melakukan tracer study berarti Perguruan Tinggi tidak mendapat manfaat dari lulusannya. Padahal dengan tracer study kita akan mendapatkan manfaat lebih, manfaatnya bagi  Perguruan Tinggi itu sendiri untuk melihat maupun menilai lulusannya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan dengan baik.
Tracer Study merupakan bagian yang sangat penting dalam pengembangan institusi terkait dengan peningkatan mutu. “Kita berada pada era industri 4.0, artinya bahwa kalau Perguruan Tinggi tidak melihat  seberapa jauh lulusannya terserap di dunia kerja berarti apa maknanya?” tambah Pak Jan dalam sambutannya.
Foto Bersama Perserta Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019
Di kesempatan yang sama pada saat memberikan arahan, Ibu Dra. Tiomega Gultom yang juga akrab disapa dengan Ibu Mega menyampaikan bahwa alumni itu adalah harta dari Perguruan Tinggi itu sendiri, bagaimana Perguruan Tinggi mentracer/menelusuri lulusannya sebagai output dari Perguruan Tinggi itu.
Lebih lanjut dikatakan Ibu Mega, Indikator kinerja dari pemerintah  atau Kementerian adalah masa tunggu 6 bulan setelah lulus dan  2 tahun kemudian masa penelusuran alumni tersebut sudah bekerja dimana. Kalau misalnya  masa tunggu 6 bulan sudah ada bekerja di  dunia usaha, di dunia industri, pemerintahan, maupun BUMN dari situ bisa diketahui bahwa dari lulusan Perguruan Tinggi tersebut  sudah bekerja dimana dan ketika minimal di Tahun 2019 ini dapat menelusuri sejumlah  30% dari jumlah lulusan Perguruan Tinggi pada tahun 2017, maka itu sudah termasuk pada kategori penelusuran yang baik.
Dalam pemeringkatan Perguruan Tinggi terdiri dari 4 penilaian yaitu input, output, proses dan outcome. “Kebetulan Tracer Study ini adalah primadona karena ada 2, yang satu ada di SIMKATMAWA kemudian yang kedua di outcome, di penelusuran  persentasi lulusan Perguruan Tinggi dengan masa tunggu  6 bulan. Kalau di SIMKATMAWA diproses 25% dan di outcome 35% bersamaan dengan kinerja pengabdian kepada masyarakat, jumlah sitasi perdosen, jumlah paten perdosen sedangkan di SIMKATMAWA adalah Kinerja Kemahasiswaan, jadi  benar-benar tracer study itu ada 2 di Pemeringkatan,” Terang Kasubdit Penyelarasan Kebutuhan Kerja, ibu Dra Tiomega Gultom.
Penyerahan Cendramata berupa Sertifikat dari Direktorat Kemahasiswaan Kemenristekdikti kepada LLDIKTI Wilayah XII Ambon
Di akhir arahannya, Ibu Kasubdit Penyelarasan Kebutuhan Kerja berjanji akan memberikan perhatiaan lebih kepada Perguruan Tinggi yang ada di Wilayah XII Maluku dan Maluku Utara terkait pemasukan proposal untuk Bantuan Program Pengembangan Layanan Pusat Karir/Tracer Study mengingat bahwa belum ada satupun  Perguruan Tinggi di Wilayah XII Maluku dan Maluku Utara yang pernah memasukkan/mengupload proposal Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer maupun data tracer study di sistem informasi pusat karir/tracer study Belmawa.
Pada Kegiatan Diseminasi Bantuan Program Pengembangan Pusat Karir/Tracer Study Tahun 2019 di Ambon, selain bekal materi tentang Pusat Karir/tracer study, peserta juga diajarkan tentang simulasi cara pengisian/up load data tracer study pada portal sistem informasi  http://pkts.belmawa.ristekdikti.go.id/ (put)

Download Materi:
Paparan Diseminasi Pusat Karir
Program Pusat Karir dan Pusat Karir Lanjutan
tracerstudy_workshop_2019

Sumber
Penulis : Akademik dan Kemahasiswaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *