Bioremediasi Perbaiki Kualitas Lahan Pertanian

By | October 1, 2019

Jakarta – Banyaknya aktivitas tambang mineral di Indonesia menyisakan lahan yang menjadi tidak subur lagi. Namun ternyata, tidak selamanya lahan bekas tambang menjadi tidak bermanfaat. Bioremediasi lahan dengan menggunakan mikroba tertentu yang disebut dengan Inokulan Konsorsia Mikroba Rhizosfer (IMR) dapat memulihkan lahan yang tadinya tidak subur menjadi lebih subur.

Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Nana Mulyana mengatakan, bioremediasi telah dikembangkan sejak tahun 60an. Secara terminologi, bioremediasi berasal dari 2 kata, yakni bio dan remediasi. “Jadi pembenahan lahan dengan menggunakan hayati atau mikroorganisme,” katanya saat konferensi pers di kantor PAIR BATAN, Jakarta, Senin (30/09).

Dengan memanfaatkan teknologi nuklir, wadah atau media yang digunakan untuk menyimpan mikroorganisme diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kilogrey sehingga kualitas mikroorganisme dapat terjaga selama dalam penyimpanan hingga 1 tahun. “Mikroorganisme yang disimpan dalam wadah yang sudah diiradiasi misalnya sejumlah tertentu, maka setelah disimpan dalam waktu 1 tahun, jumlahnya tetap dan tidak berkurang,” tambahnya.

Mikroorganisme yang sudah sudah diformulasikan kemudian digunakan untuk memperbaiki lahan yang rusak. Sebelum dilakukan perbaikan atau pembenahan, lahan yang sudah rusak tadi harus diidentifikasi dulu masalah utamanya, agar mikroorganisme yang dikembangkan tepat sasaran.

Secara umum, jelas Nana, permasalahan lahan di Indonesia disebabkan oleh empat hal. Pertama, lahan yang terkontaminasi logam berat, kedua, lahan yang terkontaminasi hidrokarbon seperti tumpahan minyak bumi, ketiga iklim tropis di Indonesia menyebabkan lahan kerapkali terkena penyakit tanaman Fusarium, dan keempat adalah aktivitas tambang yang menyebabkan kerusakan pada bagian atas tanah (top soil), tempat pertumbuhan akar atau rizhosfer.

“Kegiatan manusia melakukan penambangan juga dapat merusak lapisan atas tanah. Kegiatan penambangan biasanya berakibat pada terkelupasnya lapisan atas tanah, sehingga yang berada di lapisan atas adalah sub soil, dan lapisan ini tidak subur,” kata Nana.

Setelah diketahui permasalahannya, selanjutnya bioremediasi lahan dilakukan dengan mengembangkan mikroorganisme yang mampu mengurangi penyebab kerusakan lahan itu. “Misalnya, untuk logam berat, kami kembangkan mikroorganisme yang memang memiliki kemampuan mengarsorbsi atau menyerap logam berat. Sehingga ketika ditanami, tanaman bisa tereduksi kandungan logamnya,” jelas Nana.

Nana menerangkan, salah satu penerapan IMR untuk bioremediasi ini pernah dilakukan di daerah Cepu, Jawa Tengah yang tercemar hidrokarbon berupa minyak bumi. “Kami lakukan pengomposan (pemupukan) disitu dengan bahan organik lokal. Kebetulan di Cepu daerah hutan jati, banyak serbuk gergaji. Maka serbuk gergaji ini kita gunakan sebagai mikroba untuk pembenahan lahan awal,” terangnya.

Hasilnya, lanjut Nana, setelah 45 hari terjadi penurunan kandungan hidrokarbon dan hanya tersisa 10 persen saja. Untuk mengembalikan ekosistem, lanjut Nana, langkah selanjutnya adalah lahan yang sudah dibenahi tadi ditanami tanaman heterogen dibantu oleh IMR, sehingga tanaman yang tidak mampu tumbuh dapat tumbuh dengan baik. Laham ditanami tanaman keras seperti pohon rambutan dan mangga, dan diselanya ditanam rumput gajah yang mampu secara berkelanjutan menyerap hidrokabron.

Kepala Bidang Industri dan Lingkungan, PAIR BATAN, Roziq Himawan, mengatakan selain di Cepu, IMR untuk bioremediasi lahan ini juga sudah pernah dilakukan di Brebes pada lahan komoditas bawang yang lahannya terkontaminasi agrokimia, dan Bangka Tengah pada lahan komoditas lada yang terkena penyakit Fusarium.

Kendati sudah pernah dilakukan di beberapa tempat, Kepala PAIR BATAN, Totti Tijiptosuimirat mengakui masih menemukan kendala untuk menggandeng industri yang dapat memproduksi IMR. “Kerja sama dengan Pemda sudah pernah, namun setelah itu kan perlu ada pihak yang memproduksi menjadi skala industri, ini menjadi tantangan kami untuk menjual teknologi ini agar dapat diproduksi lebih banyak dan dimanfaatkan secara luas”, pungkasnya.

sumber : http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/sains-aplikasi-teknologi-nuklir/aplikasi-isotop-dan-radiasi/5925-bioremediasi-perbaiki-kualitas-lahan-pertanian

Sumber
Penulis : Jamal Suteja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *